Kalo kita tau apa yg kita mau dan kita percaya bahwa itu yg terbaik untuk kita, kejar! pegang! jangan sampai lepas. Kalo lepas, lo bisa lari. Kalo gak bisa lari, jalan juga gapapa, yg penting gak diem di tempat.
Nyaman adalah berbagi waktu tanpa perlu merasa canggung.
Nyaman adalah menikmati keberadaan masing-masing, walau yang dapat kami berikan kepada satu sama lain hanyalah kehadiran itu sendiri.
Nyaman berarti tidak perlu meminta maaf saat lengan kami bersenggolan secara tak sengaja, kamu merokok dalam mobil dan bebas mengutak-atik stereo tanpa meminta ijin terlebih dahulu.
Nyaman adalah meneleponnya tanpa alasan, hanya karena ingin mengobrol, atau karena ada film baru yang ingin kutonton tapi tidak punya teman untuk diajak.
Nyaman itu ketika aku lapar tapi tidak ada makanan dirumah tiba-tiba kamu mengantarnya.
Rasa ini tidak perlu dilabeli, diartikan, atau dianalisa.
Rasa kehilangan itu wajar.
Tapi percaya deh, semuanya akan baik-baik aja.
Suatu hari, lo akan bangun dan nggak merasakan apa-apa.
Semua beban dari masa lalu lo, rasa sedih ini, puff! hilang begitu saja.
Dan saat itu, lo akan lebih ikhlas menjalani semuanya, karena lo udah menerima bahwa kenyataan nggak bisa diubah.
Hidup juga kayak cuaca.
Hari ini bisa hujan, besok bisa cerah.
Hari ini mendung, besok bisa panas.
Tapi, lo nggak akan punya hujan selamanya, atau kemarau selamanya.
Kita butuh pahit dan manis secara bersamaan, sebuah bentuk keseimbangan.
Ketika pilihan terberat bukan lagi antara memilih warna krayon untuk menggambar.
Atau bahkan memilih sepatu mana yang paling cocok untuk hari ini.
Di situlah aku dan kamu mulai muncul, sebagai sebuah permasalahan yang rumit.
Mungkin, bukan dinamakan dengan rasa jika tidak meninggalkan sebuah rajutan luka, bukan pula hati jika rasanya sama sekali tidak pernah meninggalkan jejak berupa rasa hangat di pipi ataupun rasa panas di dada serta rasa sakit di kepala.
Tapi, bukankah kita hidup ini memang terlahir dari hati dan rasa?




