Kisahku




Teringat di suatu waktu, seorang Ibu yang menceritakan dengan antusias tentang anaknya. Dia bangga dan bahagia atas anaknya itu. Bukan karena anaknya telah menjadi sosok bergelimang harta hingga terpandang dan dihargai semua orang dan sesamanya. Bukan pula karena anaknya menjadi selebritis yang begitu populer dan dipuja berjuta penggemarnya. Melainkan karena anaknya begitu mencintainya. Anak yang begitu menuruti kemauan seorang ibunya dan begitu memperhatikannya. Serta sebagai seorang ibu, dia sangat merasa berharga, dia sangat merasa beruntung telah melahirkan sosok anak sebaik dan semulia sepert itu.



Anak ini tahu semua seperti apa ibunya. Anak ini tahu bagaimana dia harus memposisikan diri di hadapan ibunya. Anak ini tahu bagaimana caranya membuat ibunya bahagia. Anak ini tahu bagaimana caranya membuat ibunya bangga. Anak ini tahu cara terindah memuliakan ibunya. Dan itu dia lakukan juga pada ayahnya, lelaki terbaik yang telah mendidik dan membesarkannya. Kebahagiaan sang ibu terpancar jelas dari binar matanya. Ada kesungguhan atas apa yang dia ceritakan. Maka termuliakanlah anaknya di mata mereka yang mendegarkan cerita sang ibu. Anak itu telah mampu menjadikan dirinya layak untuk ditiru, oleh anak-anak lain yang ingin membuat orang tuanya bangga dan bahagia.

Saat hujan sore tiba, ku teringat orangtuaku yang ada di pulau seberang. Jauh nan disana aku dipisahkan oleh pekerjaanku ini. Ada sebuah keharuan di hatiku, saat teringat kedua orang tuaku nan jauh di sana. Apakah aku telah mampu membuat mereka bangga dan bahagia. Andai itu terlalu berlebihan, paling tidak aku berharap senantiasa mendapat ridhonya. Aku rindu dengan ayah dan ibuku. Kini, ku telah jauh disana. Hari-hari ku sangat berlumuran dengan kerja keras dan keringat yang berlumuran darah. Itu semua kulakukan untukmu orangtua ku. Aku sangat bahagia dan bangga jika engkau bahagia, meskipun aku disini berkerja keras untukmu. Namun, aku tak lupa untuk berdoa kepada-NYA yang selalu melindungiku dimanapun aku berada dan selalu melindungi orangtua ku.

Pagi harinya, ketika aku bergegas ke kantor, terlintas dikepalaku mengingat kejadian yang berada di dapur sewaktu aku masih tinggal besama orangtuaku. Aku mengingat semua yang dilakukan orang tuaku dulu sewaktu aku masih sekolah. Pagi – pagi sekali, kau siapkan sarapan untukku. Nasi, lauk pauk, susu dan bekal makanan sudah siap diatas meja makanku. Sedangkan ayah, telah menyiapkan motorku yang akan kupakai berangkat sekolah. Setiap hari kau lakukan itu semua untuk anak – anakmu. Meski dengan keadaan sakitpun kau telah menyiapkan semua. Aku bangga kau telah berada disampingku sampai aku berumur 16th saat ini. Aku ingin, engkau bangga kepadaku. Seperti aku bangga mempunyai kedua orangtua seoerti engkau. Namun, sekarang bik surmi yang menyiapkan semua makanan dan pakaian ku di pagi hari.

Waktu menunjukkan pukul 06.15 tepat waktu ku untuk berangkat ke kantor. Ku panggil bang munir sebagai sopirku yang mengantarkan aku kemana-mana. Dengan kencangnya dia mengemudi mobil ku dan aku berkata “hati-hati bang, nanti….” Belum selesai ku menutup mulut, “braaaaak” mobil yang aku kendari menubruk salah seorang penjual tukang sayur yang sudah tua itu. Tak lama aku turun dan membantu tukang sayur itu membereskan sayur-sayurnya . dan aku berniat untuk mengganti sayur-sayur yang jatuh itu. Namun, tak lama kemudian datanglahseorang gadis kecil yang sangat cantik. Ternyata gadis itu adalah cucu dari tukang sayur yang sudah tua itu, dan tukang sayur itu adalah nenek dari gadis itu. Gadis itu bernama Ara. Ara membantu neneknya untuk berdiri dan membereskan sayuran yang jatuh dijalan. Rara anak yang sangat mulia. Dia rela tidak bersekolah hanya karena dia ingin menjaga neneknya dirumah. Sesekali aku mengingat dengan keadaan orang tua ku di pulau jawa. Tak segan-segan aku meminta maaf dan memberikan sebagian uangku sebagai ganti rugi dan sedikit camilan roti, biscuit dan snack yang ada dimobil untuknya. Namun, si gadis kecil ini menolak dengan nada sopan. Dia berkata : “maaf kakak, saya tidak mau merepotkan kakak. Ini salah nenek saya karena tidak melihat jalan dengan baik. Maafkan nenek saya”. Aku hanya terdiam dan meneteskan air mata ku (seketika aku ingat dengan orantuaku) dan berkata : “tidak ara. Ini untuk ara dan nenek. Kakak ikhlas ngasih semua ini untuk ara. Oh iya, kenalkan nama kakak aurora”. Ara menjawab : “terima kasih banyak. Kakak sangat baik kepadaku. Waah cantik sekali nama kakak seperti orangnya”. Aku hanya tersenyum manis dan segera meninggalkan ara dan neneknya. Di dalam mobil, aku melamun dan berfikir (anak sekecil itu, rela tidak bersekolah demi neneknya yang sudah tua. Dan cara befikir anak itu sangatlah dewasa).

Beberapa menit kemudian, sampailah dikantor. Semua client ku telah menunggu ku untuk meeting masalah lahan kosong. Aku bergegas mengambil jasku dan memulai bekerja. Sampai waktu menunjukan jam makan siang. Aku bergegas pergi ke café sendirian. Hari-hari ku selalu sendirian dimana pun aku berada. Terlintas dikepalaku, aku ingat dengan kedua orang tuaku. Mereka selalu mengantarkan ku dimana aku berada. Aku inginkan mereka berada disampingku sewaktu aku masih sekolah dulu. Namun, itu tak mungkin terjadi. Karena, pekerjaan yang membuatku jauh dengan orang tuaku. Sesekali aku menelfon kedua orang tuaku. Aku sangat senang sekali mendengar suara orang tuaku. Aku rindu dengan mereka...

0 komentar